Trait

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa yang dimaksud dengan trait adalah suatu ciri yang khas bagi seseorang dalam berpikir, berperasaan, dan berperilaku, seperti intelegensi (berpikir), iba hati (berperasaan), dan agresif (berprilaku). Ciri itu dianggap sebagai suatu dimensi kepribadian, yang masing-masing membentuk suatu kontinum atau skala yang terentang dari sangat tinggi sampai sangat rendah.

Kalau saya sendiri lebih cenderung untuk berpikir  ke depan, namun entah bagaimana untuk melaksanakan apa yang sudah saya rencakan itu susah. Dan saya orangnya sensitive, sangat mudah untuk iba hati kepada orang lain, mudah menangis di tempat yang sepi dan saya lebih cenderung untuk menutup diri kepada orang-orang yang baru saya kenal.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Paradigma Psikologi : Trait

 

A. Teori Umum Cattell

 

Raymond B Cattell (dan juga Hans Eysenck) mempunyai keyakinan dasar bahwa kepribadian memiliki banyak sekali dimensi yang dapat diukur, dan teknik statistik analisis faktor dapat dipakai sebagai sarana untuk mengisolasi variabel-variabel kepribadian itu. Misalnya, seorang pakar kepribadian akan meneliti hipotesa yang menyatakan bahwa manusia itu mempunyai 30 macam traits di dalam dirinya. Dibuatlah alat ukur untuk mengungkap besaran trait-trait itu di dalam diri seseorang. Masalahnya adalah, apakah 30 traits itu saling terpisah, atau ada dua trait atau lebih yang saling berhubungan dan dapat dipandang sebagai satu trait saja? Faktor analisis merupkan prosedur untuk menganalisis seperangkat korelasi antara berbagai skor hasil pengukuran, dengan tujuan memperoleh jumlah trait yang lebih sederhana, untuk kemudian diinterpretasi sebagai struktur dasar dari kepribadian itu sendiri.

 

v  Struktur Kepribadian

Trait

Trait adalah elemen dasar dari kepribadian yang berperan vital dalam usaha meramalkan tingkah laku. Hal ini tampak definisi kepribadin menurut Cattell. Menurutnya, kepribadian adalah struktur kompleks yang tersusun dalam berbagai kategori yang memungkinkan prediksi tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu, mencakup seluruh tingkah laku baik yang konkrit atau yang abstrak.

Trait dapat diklasifikasikan memakai 3 kategori yaitu:

a)      Kategori Kepemilikan

–          Trait Umum

Trait yang dimiliki oleh semua orang dalam tingkatan tertentu. Bersifat universal yang mungkin dilatarbelakangi oleh hereditas manusia dan berada pada kelompok budaya yang sama serta menghadapi pola tekanan social yang sama pula.

–          Trait Khusus

Trait yang dimiliki satu orang saja (bisa juga dimiliki oleh beberapa orang dengan kombinasi antar trait yang berbeda). Sifat unik ini terutama berhubungan dengan interest dan attitude.

 

b)      Kategori Kedalaman

–          Trait Permukaan

Merupakan sifat yang tampak, yang menjadi tema umum dari beberapa tingkah laku. Misalnya: remaja yang lincah. Menyenangkan orang lain, dan merencanakan kegiatan yng menarik mungkin dapat dikatakan memiliki trait permukaan yang periang (surface traits cheerfulness).

–          Trait Sumber

Elemen-elemen dasar yang menjelaskan tingkah laku. Sifat ini tidak dapat disimpulkan langsung dari amatan tingkah laku dan hanya dapat diidentifikasi memakai analisis faktor. Trait sumber ini bisa bersifat konstitusional (dibawa sejak lahir) atau bersifat bentukan lingkungan (environmental mold).

 

c)       Kategori Modalitas Ekspresi

–          Teori Kemampuan (ability)

Menentukan keefektivan seseorang dalam usaha mencapai tujuan. Contoh: kecerdasan.

–          Trait Tempramen (temprament)

Gaya atau irama tingkah laku. Contoh: ketenangan, kegugupan, keberanian, santai, mudah terangsang.

–          Trait Dinamic (dynamic)

Motivasi atau kekuatan pendorong tingkah laku. Contoh: dorongan, interes, ambisi menguasai sesuatu.

Faktor Sumber (faktor primer)

 

Cattell meneliti trait sumber dengan mengumpulkan 4000 sifat manusia yang kemudian dia ringkas dengan cara mengelompokkan sifat yang mirip dan menghilangkan istilah yang asing dan metaforik menjadi 200 sifat. Memiliki metoda kluster, 200 sifat itu dikelompokkan dan diperas menjadi 35 sifat yang kemudian dinamakan 35 sifat sumber atu sifat primer yang masing-masing diberi simbol huruf berbeda. 35 sifat tersebut dibagi menjadi 2 kelompok, 23 sifat populasi normal dan 12 sifat populasi berdimensi patologis. Sesudah dilakukan analisis faktor terhadap 23 sifat primer dari populasi normal ditemukan 16 sifat primer yang satu dengan lainnya saling asing, 16 sifat sumber (sifat primer) ini dinamakan 16 faktor primer, oleh Cattell kemudian dijadikan dasar untuk mengembangkan instrument pengukuran kepribadian yang terkenal yakni 16 Personality Faktor Questionnair (16PF).

Faktor-faktor pada 16 PF

  1.  Faktor A (Sizia-Affectia)
  1. Faktor B (Intelligence)
  2. Faktor C (Ego Strenght)
  3. Faktor E (Submissive-Dominance)
  4. Faktor F (Disurgency-Surgency)
  5. Faktor G (Super Ego Strenght)
  6. Faktor H (Threctia-Parmia)
  7. Faktor I (Harria-Premsia)
  8. Faktor L (Alaxia-Protension)
  9. Faktor M (Praxernia-Autia)
  10. Faktor N (Artlessness-Shrewdness)
  11. Faktor O (Assurance-Proneness)
  12. Faktor Q1 (Conservative-Radicalism)
  13. Faktor Q2 (Group Adherence-Selfsuffisient)
  14. Faktor Q3 (Low Integration-High Self Concept)
  15. Faktor Q4 (Ergic Tension)

 

v Dinamika Kepribdian

Dinamika trait muncul sebagai satu klasifikasi trait. Bahasan mengenai dinamika trait sebagai motivasi secara spesifik menganalisis asal muasal penggerak trait dan saling hubungan subsidiasi antara sikap, sentiment dan sifat keturunan. Beberapa hal yang terkait dengan dinamika adalah:

a)      Sikap (Attitude)

Bukan merupakan pandangan tentang sesuatu, tetapi sikap lebih menekankan pada konsep tentang tingkah laku spesifik (atau keinginan untuk bertingkah laku tertentu) sebagai respon terhadap suatu situasi.

b)      Dorongan Pebawaan (Erg dari Ergon atau kerja)

Dorongan atau motif pembawaan oleh Cattell disebut sebagai Erg. Semua dorongan primer yang dibawa bersama kelahiran disebut Erg seperti contohnya seks, lapar, haus, rasa ingin tahu, marah, dan motif lain yang biasanya tidak hanya dimiliki manusia, tetapi juga oleh primate dan mmlia lainnya.

c)       Sentiment

Sentiment merupakan sumber motivasi yang penting karena kecenderungannya mengorganisir diri di sekitar institusi social yang menonjol.

d)      Kalkulus Dinamik (dynamic calculus)

Dalam kalkulus dinamik, erg dan sentiment dipandang sebagi akar dari semua motivasi yang dapat dipakai untuk meramalkan tingkah laku seseorang. Persamaan itu memasukkan hubungan trait, erg dan sentiment dengan situasi tertentu untuk menentukan bentuk respon seseorang.

 

  1. B.  Teori Umum Hans Jurgen Eysenck

Teori kepribadian Eysenck memliki komponen biologis dan psikometris yang kuat. Namun ia yakin kalau kecanggihan psikometris saja tidak cukup untuk mengukur struktur kepribadian manusia dan bahwa dimensi kepribadian yang melewati analisis faktor bersifat steril an tak bermakna kecuali mereka memiliki eksistensi biologis.

Inti pandangan Eysenck dalam psikologi dapat dicari sumbernya pada keyakinannya bahwa pengukuran adalah fundamental dalam segala kemajuan ilmiah, dan bahwa lapangan psikologi sebelumnya orang belum pasti tentang “hal” apa yang sebenarnya diukur. Eysenck yakin bahwa taksonomi atau klasifikasi tingkah laku adalah langkah pertama yang menentukan dan bahwa analisis faktor adalah alat yang paling memadai untuk mengejar tujuan ini.

v Struktur Kepribadian

Eysenck berpendapat bahwa, kebanyakan ahli-ahli teori kepribadian terlalu banyak mengemukakan variable-variabel kompleks dan tak jelas. Pendapat ini dikombinasikan dengan analisisnya, yaitu dengan analisis faktor, telah menghasilkan system kepribadian yang ditandai oleh adanya sejumlah kecil dimensi-dimensi pokok yang didefinisikan dengan teliti dan jelas.

Kepribadian adalah sesuatu yang timbul dariefektivitas sebagai total pola-pola perilaku actual atau potensial dari individu yang mendatangkan stimulus dari orang sekitarnya, dan sulit untuk dipahami, yang dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal dari individu dimana kedua faktor tersebut juga saling mengadakan interaksi.

Berbicara tentang struktur kepribadian, Eysenck berpendapat bahwa kepribadian tersusun atas tindakan-tindakan, disposisi-disposisi yang terorganisasi dalam susunan hierarkis berdasarkan atas keumuman dan kepentingannya. Bila diurutkan dari yang paling tinggi dan paling mencakup ke yang paling rendah dan paling khusus adalah:

 

a)      Type, yaitu kumpulan dari trait, yang mewadahi kombinasi trait dalam satu dimensi yang luas.

b)      Trait, yaitu kumpulan kecenderungan kegiatan, koleksi respon yang saling berkaitan atau mempunyai persamaan tertentu. Ini adalah disposisi kepribadian yang paling penting dan permanen.

c)       Habitual Response, yaitu kumpulan respon spesifik, tingkah laku atau fikiran yang muncul kembali untuk merespon kejadian yang mirip.

d)      Spesific Response, yaitu tingkah laku yang secara actual dapat diamati, yang berfungsi sebagai respon terhadap suatu kejadian.

 Dimensi-Dimensi Kepribadian

 

Eysenck menemukan tiga dimensi tipe, yakni ekstraversi (E), neurotisme (N), dan psikotisme (P). Masing-masing dimensi saling asing, sehingga dapat berlangsung kombinasi antar dimensi secara bebas.  

Tiga dimensi kepribadian Eysenck ini masuk akal secara teoritis. Carl Jung dan tokoh yang lain menyadari efek yang kuat dari perilaku ekstraversi dan introversi (faktor E), dan Sigmund Freud menekankan pentingnya kecemasan (faktor N) dalam pembentukan perilaku. Selain itu psikotisme (faktor P) sejalan dengan para teoritisi yang lain seperti Abraham Maslow yang melihat kesehatan psikologis dalam aktualisasi diri (skor P rendah) hingga skizofrenis dan psikosis (skor P tinggi). Ekstraversi dan neurotisme adalah faktor dasar hamper disemua studi analisis faktor tentang kepribadian.

 

Dinamika Kepribdian

 

Yang disebut dengan dinamika kepribadian adalah mempelajari interaksi antar struktur dari kepribadian tertentu, yang dalam pembahasan kali ini adalah struktur kepribadian menurut tokoh Eysenck.

Jika dilihat dari hubungnnya dengan faktor-faktor struktur di atas, maka dapat disebutkan bahwa antar bagian dari struktur kepribadian tersebut terjadi interaksi dan saling berpengaruh antar satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh adalah adanya interaksi antara bagian kepribadian yang disebut sebagai specific response dan habitual response. Dimana yang disebut sebagai specific response yakni perilaku atau pikiran individual yang bisa mencirikan sebuah pribadi atau tidak, missal seorang siswa yang menyelesaikan tugas membaca. Sedangkan habitual response dapat dimaknai sebagai respon yang terus berlangsung di bawah kondisi yang sama, missal jika seorang siswa seringkali berusaha sampai suatu tugas selesai dikerjakannya. Habitual response ini dapat berubah-ubah ataupun dapay menetap.

Setelah mengetahui penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk membuat perilaku tertentu atau specific response menjadi sebuah kebiasaan atau habitual response maka perlu adanya pengulangan perilaku tertentu tersebut hingga beberapa kali. Sedangkan jika individu tersebut tidak menginginkan perilaku tertentu itu menjadi sebuah habitual response atau sebuah kebiasaan, maka tidak diperlukan pengulangan perilaku hingga berkali-kali. Dan hubungan serta interaksi juga berlaku pada bagian kepribadian Eysenck yang lain, seperti tipe dan trait.

 

  1. C.  Paradigma Psikopatologi Trait

 

Cattell setuju dengan pandangan klinis bahwa neurosis dan psikosi itu terjadi akibat adanya konflik yang tak terpecahkan dalam diri individu. Dia kemudian berusaha mengembangkan teknik kuantitatif untuk membantu terapis mendiagnosis dan melakukan tritmen. Setiap konflik selalu ada sekian banyak attitude, erg, dan sentiment yang terlibat, sehingga muncul pilihan tingkah laku yang tidak dikehendaki.

a)      Neurosis

Neurosis adalah pola tingkah laku yang ditunjukkan oleh seseorang yang merasa dirinya mengalami keulitan emosional tetapi tidak menunjukkan gangguan psikotik. Definisi ini sangat operasional karena menurut Cattell pemahaman tentang neurosis harus dimulai dengan pengukuran untuk mengidentifikasi perbedaan orang neurosis dengan orang normal. Ternyata perbedaan normal dengan neurotic dan psikotik bukan hanya perbedaan tingkatan, tetapi juga perbedaan dimensi.

Cattell menemukan neurotic banyak berkembang pada keluarga yang penuh konflik, kurang disiplin dan kurang kasih saying. Keluarga itu menerapkan standar moral yang tinggi, dan suami istri yang memiliki latar belakang stabilitas emosional yang rendah.

 

b)      Psikosis

Psikosis adalah bentuk gangguan mental yang berbeda dengan neurosis, di mana individu kehilangan kontak dengan realita dan membutuhkan perawatan untuk melindungi dirinya dan orang lain. Jadi perbedaannya dengan neurotic adalah; psikotik tidak memiliki pemahaman terhadap masalahnya sendiri, tidak dapat merawat diri, dan mungkin membahayakan orang lain dan dirinya sendiri. Menurut Cattell, psikotis manis-depresif dan skizofrenia faktor keturunannya sangat besar. Sama seperti neurosis, peran keluarga cukup besar menyumbang terjadinya psikotik. Banyak bukti orang tua psikotik lebih hangat dan melindungi disbanding orang tua penderita skizofrenia.

Sedangkan menurut Eysenck, neurotisme dan psikotisme itu bukan sifat patologis, walaupun tentu individu yang mengalami gangguan akan memperoleh skor yang ekstrim. Ekstraversi, neurotisme, dan psikotisme, tiga dimensi itu adalah bagian normal dari struktur kepribadian. Semuanya bersifat bipolar; ekstraversi lawannya introversi, neurotisme lawannya stabilita, dan psikotisme lawannya fungsi super ego. Semua orang berada dalam rentangan bipolar itu mengikuti kurva normal, artinya sebagian besar orang berada di tengah-tengah polarisasi, dan semakin mendekati titik ekstrim, jumlahnya semakin sedikit.

Hal ini dapat diartikan bahwa, orang yang variable psikotismenya tinggi tidak harus psikotik, tetapi mereka mempunyai predisposisi untuk mengidap stress dan mengembangkan gangguan psikotik. Pada masa orang hanya mengalami stress yang rendah, skor psikotis yang tinggi mungkin masih bisa berfungsi normal, tetapi ketika mengalami stress yang berat, orang menjadi psikotik yang ketika stress yang berat itu sudah lewat, fungsi normal kepribadian sulit untuk diraih kembali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment